dibilang curhat juga enggak, tapi iya juga boleh ding wkwk
walupun rada mekso dan terkesan too much tapi ini beneran asli buatanku lho!
aku butuh komentar pedas dan saran dari kamu nih..
Katakan Sebelum Terlambat
Oleh : Dewi Arnis
Maaf hari ini Aku gak bisa jemput kamu.
Ya ya ya, semua kebetean Chila berawal dari SMS ini, SMS dari kakak Chila yang lagi sibuk-sibuknya kuliah. Kakaknya tidak bisa menjemput Chila gara-gara tugas-tugasnya yang seabrek. Dengan berat hati Chila harus jalan sendirian ke shelter Trans Jogja sepulang sekolah nanti.
Masih sepuluh menit sebelum bel pulang berbunyi, tapi sepuluh menit bersama pelajaran Fisika siang ini serasa sepuluh jam! Haaaah sangat membosankan! Bahkan kelas Chila yang terkenal paling ribut di sekolah bisa berubah seratus delapan puluh derajat jadi kelas paling sunyi. Jangan salah, bukannya mereka sibuk memperhatikan pelajaran, mereka sibuk dengan khayalannya masing-masing di dalam mimpi. Ada yang masih hidup, tapi mereka asik sendiri dengan barang-barang elektroniknya.
'dum dum tralalalala dum dum tralalalala'
Akhirnya bel yang Chila tunggu sedari tadi datang juga. Memang agak aneh suara bel sekolah ini, tapi suara ini yang selalu ditunggu Chila dan teman-temannya. Chila dan Imel, teman sebangkunya, langsung pergi menuju tempat biasa dimana mereka menunggu jemputan.
Siang ini benar-benar panas. Mungkin panasnya bisa membuat cucian Mama tadi pagi jadi kering dalam sekejap. Chila bete, harus jalan ke shelter panas-panas begini.
"Mel Imel, liat deh! Itu siapa ya? Rasa-rasanya Aku baru liat muka kayak gini di sekolah." Ucap Chila, sambil menunjuk salah satu cowok di kerumunan para senior SMA Nusantara.
"Hah? Yang mana?" Tanya Imel.
"Itu, yang lagi duduk di atas motor di depan kita, manis ya? Hahaha." Jawab Chila sambil meringis.
“Hahaha kamu kemana aja sih Chil? Itukan temen si Reno, kakak senior kita yang paling bego, kalo gak salah sih namanya Vino.” Jawab Imel.
“Wuuush ngeri, yang anak eksis, tau segala hal tentang senior hahaha. Ada untungnya juga sih aku temenan sama kamu,” ledek Chila.
“Iiiih apaan deh, yang eksis tuh kakak ku, maklumlah mantan ketua OSIS SMA Nusantara,” Imel membela diri.
“Iya iya, kakak adek sama-sama eksis hahaha. Eh, tadi kamu bilang dia bego? Kok bisa?” Tanya Chila penasaran.
“Bukannya anak 12A7 itu bego semua ya? Stress kebanyakan ngurusin protista, jamur, dan kawan-kawannya mungkin, hahahaha,” Imel dan Chila tertawa geli.
“Haha ngawur! Tuh kamu udah ditunggu si Teo!” Ucap Chila.
Teo kakak kandung Imel yang mantan ketua OSIS SMA Nusantara, sekarang kuliah di
Universitas ternama di Jogja.
“Haha dadaaa Chila sayang! Selamat berolahraga, biar tambah sexy tuh betis!” Ledek Imel.
“Sialan! Udah deh sana pergi! Yang jauh kalo perlu!” Jawab Chila bete.
Mau tidak mau Chila harus jalan ke shelter demi pulang ke rumah. Selama perjalanan menuju shelter Chila hanya mengayunkan helm-nya sambil menggerutu, yang kenapa kakaknya tidak bisa menjemput, shelter yang jauh dari sekolah, sampai-sampai matahari juga disalahkan gara-gara panasnya yang tidak kira-kira.
“Aduuuh!!” Teriak Chila.
Entah Chila yang salah jalan sambil merem, atau memang nasib batunya ada disitu harus ditendang Chila.
“Ini helm mu jatuh, makanya kalau jalan ati-ati ya.” Ucap seseorang diiringi senyuman manis.
Dengan muka gugup Chila menjawab, “I.. I.. Iya, makasih, duluan ya Kak.” Chila langsung lari menuju shelter yang tinggal beberapa meter lagi.
* * *
...
Ku jumpa dia berikutnya.
Suasana berbeda.
Getaran itu masih ada, aku dekati dirinya.
Ku tatap wajahnya.
Oh dia tetap mempesona.
Ingin aku menyapanya,
menyapa dirinya,
bercanda tawa dengan dirinya,
namun apa yang kurasa?
Aku takkuasa.
Aku tak tau harus berkata apa.
Inikah yang namanya cinta?
Oh inikah cinta?
Cinta pada jumpa pertama.
...
Lagu Inikah Cinta yang dinyanyikan SM*SH, siang ini jadi soundtrack Chila di dalam Trans Jogja. Senyum si senior masih terbayang jelas diingatan Chila. Chila yang sedaritadi bete, sekarang berubah jadi ceria, senyum manisnya dibagikan secara geratis kepada orang-orang yang Chila temui hari itu.
* * *
“Tuh cewek kalo pake baju olahraaga cakep banget, Ren!” Puji Vino suatu hari, dengan mata berbinar-binar.
“Yang mana? Semuanya juga pake baju olahraga bego!” Jawab Reno.
“Hehehe, itu yang rambutnya sebahu, diurai, berantakan.” Ucap Vino.
“Ih yang mana sih? Yang jelas dong!” Reno mengerutkan kening.
“Itu lho yang item manis! Cewek disamping pohon kamboja!” Tandas Vino.
“Oooh, yang di samping Imel ya?” Tanya Reno.
“Iya iya bener banget! Namanya siapa ya? Tanyain Imel dong Ren,” rengek Vino.
“Ada yang lagi kesem-sem nih. Eh, itu bukannya cewek yang pernah kamu tolong dideket shelter ya?” Tanya Reno memastikan.
“Iya, sumpah bego banget dia, jelas-jelas ada batu segede kingkong di depannya, masih juga ditendang.” Jawab Vino.
“Alah, bego gitu kamu juga kesem-sem aja!” Ledek Reno.
Vino dan Reno yang mulai sadar bahwa keberadaannya telah diketahui Imel dan temannya, kemudian menyudahi percakapan mereka dan segera kembali ke Lab. Bahasa.
* * *
Di kantin Reno berpapasan dengan Imel dan temannya.
“Hei Mel, sini bentar dong!” Panggil Reno.
“Ada apa? Tumben-tumbenan kamu panggil aku di sekolah.” Jawab Imel sambil berjalan mendekati Reno.
“Ada bisnis nih! Hahaha.”
“Bisnis apaan coba?!” Tanya Imel bingung.
“Temenku ada yang mau kenalan sama cewek di belakangmu hahaha.” Reno tertawa geli.
“Kenalan sama Chila? Siapa?”
“Oh namanya Chila? Temenku, kamu tau Vino kan?”
“Emm, ya ya ya aku tau, bisa diatur. Mau kapan emang?”
“Besok sore jam setengah tujuh di kafe biasa, oke?”
“Siap boss! Hahaha.” Jawab Imel mantap.
“Eh, aku duluan ya, ditinggal Chila nih.” Sambung Imel sambil berlari mengejar Chila yang balik duluan ke kelas.
Chila yang dikejar jalannya cepet banget, entah kesurupan setan apa. Di dalem kelas Chila juga senyum-senyum terus.
“Heh! Chil? Kesambet apa kamu siang bolong gini?” Imel melambaikan tangannya di depan muka Chila. Yang ditanya masih terpaku pada lamunannya bersama senyuman-senyuman kecil di bibirnya. Akhirnya dicubitnya pipi imut teman sebangkunya itu.
“Aaaaah sakit tau! Kamu kenapa sih? Huuh!” Gerutu Chila.
“Hello?! Kamu itu yang kenapa, diajak ngomong malah bengong, pake senyum-senyum gak jelas lagi. Kaya orang gila tau! Haaha.”
“Hehehe ya maaf, habisnya aku lagi seneng banget nih!”
“Kenapa?! Cerita-cerita!”
“Tadi di kantin, waktu kamu tinggalin aku, pas aku ambil air mineral eh gak taunya di belakangku ada Vino! Hahaha dia senyum ke Aku! Gimana aku gak salting coba?” Chila nyerocos cepet kayak tukang sate langganan Mama.
“Lagian kamu ngilang kemana sih?” Sambung Chila.
“Eee ciee ciee yang lagi kasmaran hahaha. Maaf deh, tadi aku dipanggil Reno, dia ngajakin kita ke kafe langganan kita besok sore jam setengah tujuh. Katanya sih ada temennya yang mau kenalan sama kamu Chil.”
“Siapa?”
“Liat aja besok! Hahaha jangan lupa dandan yang cantik ya!” Goda Imel.
* * *
Jam menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit tapi Imel tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.
“Huh, Imel ini selalu ngareeet!” Gerutu Chila.
Dreeeeettt dreeeeettt dreeeeettt. HP Chila bergetar, menandakan ada sebuah SMS yang masuk.
Chil, cepetan keluar! Sekalian pamitin
Mamamu ya! Gak keburu nih.
Siap booos! Meluncur.
Balas Chila.
* * *
Sesampainya di kafe, ternyata sudah ada dua pria yang menunggu mereka di meja paling pojok di kafe itu. Salah satunya memakai kaos berwarna biru laut, itu pasti Reno. Satunya mengenakan hem coklat bermotif garis-garis hitam, melihat perawakannya yang tinggi berisi, Chila merasa tidak asing.
“Hei..” Sapa Imel ramah pada mereka.
“Hei, lama bener kalian ini.” Balas Reno.
Wow! Ya ya ya ya benar! Tidak salah lagi! Ternyata cowok di samping Reno memang benar Vino! Jantung Chila berdegup sangat cepat, mukanya seketika berubah menjadi merah seperti tomat.
“Oh iya, Chil kenalin ini Vino, temen Reno yang kemaren aku certain,” ucap Imel sambil mencolek pundak Chila. Chila membalas uluran tangan Vino malu-malu.
“Chila……”
“Vino……”
Keduanya tersenyum.
Kalian berdua puas-puasin deh ngobrolnya, Aku sama Imel mau cari barang pesenan Teo nih,” ucap Reno sambil menarik tangan Imel.
“Duluan ya Chil, Vin!” Sambung Imel.
Maklum Reno adalah tetangga Imel yang juga teman sepermainan si Teo, kakak Imel.
Vino dan Chila menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Mereka memutuskan untuk menyudahi malam itu, dan Vino mengantar pulang Chila.
* * *
Pagi ini kelas hening total. Sunyi senyap, tak ada yang berani bercuap-cuap. Keadaan seperti ini selalu terjadi pada kelas yang dimasuki oleh Bu Sus, beliau mendapat amanah mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SMA Nusantara ini. Memang beliau terkenal dengan metode mengajarnya yang eksentrik, tapi dengan cara itu beliau bisa mengantarkan siswa-siswinya menjadi seseorang yang sukses.
Chila yang sedari tadi sibuk dengan lamunannya tiba-tiba disodori pertanyaan dari Guru Bahasa Inggris itu. Jelas Chila kaget dan tidak tau harus menjawab apa.
'dum dum tralalalala dum dum tralalalala'
Bunyi bel yang menandakan berakhirnya pelajaran Bahasa Inggris, menyelamatkan Chila pagi ini.
“Oh, thanks God!” Bisik Chila.
* * *
Pelajaran seni rupa sngat berbeda dengan pelajaran Bahasa Inggris yang menyenangkan, di pelajaran ini para siswa dibebaskan membuat karya seni apapun. Pelajaran ini sangat santai, sambil menyelesaikan lukisan, Chila dan Imel sibuk bercurhat ria.
“Chil, semalem Reno nembak aku!”
“Wuiih, beneran?! Terus kamu tolak apa terima?”
“Hahaha jelas aku terimalah! Kayak kamu gak tau gimana aku ke Reno,” jelas Imel.
“Hahaha iya, dia cinta pertamamu kan? Selamat ya Mel,” Chila ikut tersenyum.
“Iya, makasih ya Chil. Terus gimana kamu sama Vino semalem?” Tanya Imel.
“Semalem kita ngobrol banyak, kadang yang diomongin gak jelas juga sih, tapi dia lucu kok haha. Kita juga sempet tukeran nomor telpon hihi,” ungkap Chila malu-malu.
“Ekyaaaa haha tancap gas aja Chil! Biar cepet nyusul aku hihihi,” Imel cengengesan.
“Apaan sih, bentar ada SMS nih,”
“Dari siapa?”
“Vino! Dari Vino! Dia ngajakin pulang bareng haha,”
“Iciyeee, met seneng-seneng deh! Jadi kamu gak perlu jalan jauh-jauh ke shelter kan?” Ledek Imel.
* * *
Malam minggu berikutnya Vino mengajak Chila jalan-jalan berkeliling kota. Setelah lelah berkeliling, mereka memutuskan untuk beristirahat di foodcourt, mereka memesan ice cream ukuran besar untuk berdua, dan mereka mulai berpegang tangan untuk pertama kalinya. Merekapun semakin akrab dan saling mengenal satu sama lain.

Dan malam minggu sebelum ujian tengah semester Vino mengajak Chila menghabiskan waktu di Festival Kesenian Yogyakarta. Melihat meriahnya pameran lampion yang bermacam-macam bentuknya. Ada banyak patung yang unik dan barang-barang antik lainnya. Tapi Chila tertarik pada salah satu tenda peramal. Mereka menuliskan keinginan mereka di pohon permintaan yang ada di tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan “Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang. Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakana sebelum terlambat!”
Hari berlalu, mereka mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing, ya mereka sedang menjalani ujian tengah semester. Reno mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai, tapi di tengah perjalanan Vino dan Chila terpisah dengan Reno dan Imel, akhirnya Vino memutuskan untuk berhenti di pantai terdekat.
Pantai sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sepatu dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegang tangan, merasakan lembutnya butiran pasir putih dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Sesekali mereka duduk beristirahat di bawah teduhnya karang. Sebelum matahari terbenam mereka bergegas pulang meninggalkan pantai.
* * *
Beberapa minggu setelah pulang dari pantai.
“Mel, Vino kenapa ya? Kok gak pernah hubungin aku lagi,”
“Mungkin lagi sibuk Chil, udah kamu coba hubungin?”
“Udah, tapi jawaban dari dia udah gak seramah dulu, dingin.” Ungkap Chila.
“Perasaan kamu aja tuh, yang sabar ya hehe. Oh iya, nanti kamu liat pertandingan
basket sekolah kita gak?” Tanya Imel.
“Liat dong! Kamu sama Reno ya?”
“Iya, ketemu disana ya nanti,”
* * *
Setelah selesei pertandingan basket yang di menangkan SMA Nusantara, seperti biasa sekolah Chila mengadakan konvoi keliling kota bersama para supporter dan pemain. Tanpa sengaja Chila melihat sosok Vino sedang mengambil motornya dari parkiran bersama seorang cewek berambut panjang terurai, badannya sangat mungil disamping Vino.
“Mel, itu Vino kan? Sama siapa dia?” Chila penasaran.
“Iya itu Vino, gak tau siapa tuh cewek, yang jelas bukan anak SMA Nusantara Chil,”
“Iya aku tau, apa-apaan sih si Vino? Huhu,” ungkap Chila sedih.
“Udah jangan dipikirin, bisa aja itu saudaranya kan?” Imel menenangkan sahabatnya.
“Oke itu saudaranya, tapi apa maksud dia ngejauh setelah dia ngasih harepan ke aku?
Oooh aku keGRan ya? Aaaah bodohnya aku! Huhu,”
“Sabar, sabar Chila sayang…”
* * *
Di parkiran sebelah barat GOR tempat pertandingan basket, Reno dan Vino berbincang sambil tertawa kecil.
“Kenalin nih sepupuku dari Solo, namanya Tina,” Vino mengenalkan Tina kepada Reno.
“Eh Vin, gimana Chila?”
“Malem ini Ren! Keputusanku udah bulat, setelah konvoi ini aku bakal ungkapin
semuanya ke Chila,” jelas Vino kepada Reno.
“Oke, jangan kelamaan, kasian tuh udah galau gak jelas dia hahaha,”
* * *
Saat konvoi keliling kota, mereka beramai-ramai menyanyikan mars kebanggaan SMA Nusantara di sepanjang jalan. Lain dengan Chila, perasaannya tidak karuan, pikirannya kemana-mana, motor yang dikendarainya tidak stabil. Chila hanyut dalam lamunannya, Ia tidak menyadari ada mobil dari arah yang berlawanan melaju dengan kecepatan melebihi rata-rata.
Seseorang langsung memberhentikan konvoi itu, lalu berteriak, “Hei, berhenti! Salah satu teman perempuan kita ada yang tertabrak mobil, sepertinya temanmu Mel!”
“CHILAA?!” Spontan Imel berteriak.
Vino, Imel dan Reno langsung menghampiri Chila terlebih dahulu, lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
* * *
Vino duduk di luar ruang gawat darurat ditemani Imel dan Reno. Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.
“Keadaanya sangat keritis, buat teman-teman tolong doakan untuk Chila semoga diberikan yang terbaik. Kami menemukan surat ini di sakunya,” ungkap dokter.
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Vino dan segera kembali ke dalam kamar rawat.
Dear Vino..
Aku menikmati hari-hari yang aku lalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu dingin dan tidak bisa ditebak, tapi semua ini telah memberikan kebahagiaan dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kau memberi penjelasan untuk semuanya.
Kamu tau apa yang aku tulis di pohon permintaan saat kita berada di tenda peramal?
Haha iya mungkin saat itu aku bercanda, tapi aku sadar semua itu menjadi nyata, aku menulis :
Aku ingin menjadi cinta sejatimu, menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau bisa berada disampingku selamanya.
Vino, aku sangat menyayangimu..
Chila
Setelah membaca surat dari Chila, dokter mengijinkan mereka masuk. Vino, Imel dan Reno masuk ke dalam kamar rawat. Wajah Chila pucat tetapi terlihat damai. Vino duduk disamping pembaringan dan menggenggam tangan Chila dengan erat.
“Chila, apakah kau tau harapan yang aku tulis di pohon permintaan saat kita berada di tenda peramal? Aku pun meminta agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya. Kamu harus bangun, kita akan menjalani hari-hari bersama. Aku juga sayang padamu, jangan tinggalkan aku Chila!” Butiran air mata mulai menetes dari kedua mata Vino.
Chila tak sempat membalas kata-kata dari Vino, Ia hanya membalasnya dengan senyuman terindah sepanjang hidupnya, sebelum jantung Chila berhenti berdetak.
Imel dan Reno hanya bisa menangis terharu melihat kejadian yang dialami sahabat mereka.
* * *
Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat. Kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi esok. Kau tidak akan pernah tau siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali. Hargailah waktumu kawan.
Jogja, 22 April 2011
